
di baca heug, heunteu kajeun
Pemilu sebentar lagi, partai-partai politik mulai menyebarkan propaganda dan janji-janji manisnya. Bumi Indonesia pun makin berwarna, bukan karena prestasi atau kreatifitasnya. Tapi karena warna-warna identitas partai yang kebanyakan kontras dan bikin mata ini silau. Weah. mending lihat pop art-nya Andy Warhol. Walaupun tabrak warna tapi terkesan harmony. Parpol tuh seharusnya kalau bikin logo, konsultasi dulu sama anak design grafis atau semacamnya.Hehe...
Saya masih bingung apa yang akan di usung oleh parpol tersebut. Soalnya permasalahan setiap individu itu kan berbeda. Baik secara duniawi maupun surgawi. Seperti kita ngobrol dengan pedagang, pasti yang diomonginnya seputar untung-rugi. Ngobrol dengan pengusaha, tentang saham atau surat obligasi mereka. Dengan dukun, teluh,santet,pelet,dsb. Dengan anak band seputar lagu atau gigs yang sekarang... sebenernya makin gampang sih tapi semakin banyak pula memoralitas band yang tak berkualitas dan tak layak dengar. Entah itu underground atau popular.
Berbincang dengan pemain papan, pasti seputaran papan yang retak, tracker yang hilang di curi orang atau gaya bermain mereka yang semakin bikin orang jatuh cinta dan kagum. Dengan seorang penyair, seputar sajak/puisi mereka yang menyayat hati. Dengan seorang designer/art worker, pasti seputar gambar mereka yang semakin imajinatif dan aneh. Dengan germo, moal jauh tina pemuasan hasrat 'K' dan 'M'. Ngobrol dengan saya teu pararuguh ngaler ngidul jiga kieu. Sebenernya masih banyak lagi sih, tapi ujungnya hampir sama. Tentang ketidakpuasan terhadap sesuatu yang sebenarnya tak patut kita bersujud padanya. Uang.
BIcara soal politik, saya jadi teringat perkataan Bagong(sebenernya bukan dia sih yang ngomong tapi dia menyampaikannya kepada saya) teman saya beda rokok. Walau terkadang sama, sampoerna kretek. Karena sampoerna hijau mah ngga diketeng. Bahwa politik tuh seperti kereta api yang sedang berjalan, kita tidak bisa menghentikan lajunya, karena jika kita hentikan (dalam artian kita bukan masinisnya) kita akan tertabrak dan mati konyol. Bener juga ya katanya. Buat apa kita berdemo bubarkan pemerintah, hancurkan pemerintahan! lawan! lawan! tentu itu menguras tenaga. Nah, sekaranglah saatnya untuk mengumpulkan orang-orang cerdas, kreatif,produktif dsb. Untuk Memerintah agar kita sejahtera. Ah, tapi siapa pun yang memerintah, aku tetap tidak akan bisa diperintah!
Eits.. tunggu dulu! Jangan salah mengartikan. Bukan berarti saya bedegong atau bangka warah dan semacamnya. Tapi saya hanya ingin membuat kesejahteraan itu sendiri, tanpa harus menjilat pantat pemerintah. Soalnya kalau diibaratkan, pemerintah tuh adalah kanibal yang akan mennggigit pantat kita. Lihat saja! berapa banyak ruang publik(khususkan di Bandung lah) tempat kreatifitas? Masih lebih banyak Mall-Mall tempat konsumsi, itu pun hanya untuk orang-orang yang bisa kesana.
Dulu, tahu kan Paris Van Java(PVJ)? Saya tahu dari Cumeng, sebelum jadi PVJ, itu adalah tempat warga bermain bola. Beradu kreatifitas. Lah, sekarang? udah kaya impun ngaronyok tai. Loba jelema sok keren, sok tajir, keparat, Konsumeris, Zionis, Sipilis dsb. Katanya sebelum jadi itu mall air ke daerah situ banyak. Tapi sekarang, berkurang, bukan hanya faktor alam. Dan macet pula disana.
Sekarang di Tamansari deket kost-an ku bersama anak-anak, mau dibangun lagi tuh pusat perbelanjaan. Heh, Dewan! ngga enek gitu kalian liat Mall-mall yang Astagfirullah! di kota kita tercinta ini. Dari mulai BIp, Bec, ciwalk, Plago, Dapla, Bee mall, BTC, BCW, MTc, BSM dll. Saya ngga Mau hapal sebenarnya. Tapi da kumaha deui atuh. What can i do? Ini bukan hanya masalah kemajuan, pembangungan dan/atau apalah sengakarut alasan dan pembenaran untuk itu. Ini masalah kreatifitas dan produktifitas! masalah kreasi! bukan konsumsi!
Walau pasti disana itu pasti ada tempat untuk kita berkreasi, tapi itu pasti bayar. Gimana kita mau menghasilkan sesuatu hal yang baru jika untuk mengeluarkan ide-nya saja kita harus bayar? Okelah kita berpikir realita. Tapi kita tidak bisa berotasi dalam realita seperti ini. Dimana kita harus bermunafik kepada diri kita sendiri, juga orang lain. Kita itu harus jujur bahwa siklus kehidupan kita membosankan. Bener ga? mudah-mudahan bener.Hehe...
Di dunia pasca modern ini, elemen gratis untuk kita tuh sudah dilabeli harga. Seperti tanah,air, tinggal udara sinar matahari, cahaya rembulan saja yang belum. Na'udzubillahimindzalik. Amit-amit jabang raksasa. Kita hanya disuguhkan pada objek-objek kosong. Entah itu berbentuk atau abstrak. Kurikulum belajar di sekolah pun saya rasa membosankan, mau seorang pelajar cerdas gimana kalau mereka disuguhi metode pelajaran yang sangat monoton. Sebuah metode pembodohan yang legal.
Ketika saya bertanya kepada beberapa teman tentang cita-cita. Mereka jawab ingin bekerja sebagai TNI, Dokter, Pilot, Guru, Dosen, Kamen Raider, superman dll. Padahal cita-cita itu bukanlah pekerjaan, melainkan pengabdian. Mengapa? karena jika kita menganggap itu sebagai pekerjaan. Kita hanya akan melakukannya demi upah yang kita dapat. Tapi jika kita menyebut itu pengabdian kita pasti loyal dan maksimal terhadap profesi tersebut.
Tetap saja, bagaimana dan/atau se-brutal apapun kita menuntut jaman, jamanlah yang menuntut kita. lantas masih bisakah kita merubah hidup? saya yakin bisa, itu perlu waktu, sedikit sulit, dan kunci dari semua itu adalah jangan pernah mencoba untuk menyerah(nulis kieu teh berat euy sabenerna mah), karena musuh kita sebenarnya itu adalah diri kita yang terlalu mudah untuk menyerah. Hey.. pemerintah aku akan membalas gigitan pantatmu dengan caraku sendiri. We can do it ourselves!