matamerahcomix

googlecac909b97c1ae097.html

ZAHLEN

Monday, July 19, 2010

Gairah Semesta Extravaganja

Gairah Semesta Extravaganja
Ada saat dimana sesuatu tu bukanlah sesuatu. Something is nothing. Yah, dan memang benar sesuatu itu tak akan menjadi sesuatu apapun jika tak dimaknai. Dan ketika saat itu dating, hanya ada satu hal yang menghampiri, rasa takut. Tentu saja. Karena ketakutan untuk tidak menjadi sesuatu ituadalah ketakutan yang paling menyeramkandibandingkan ketakutan untuk mencium kuda.
Ahmad Zaelani, atau lebih dikenal dengan Zae, seorang penulis uga wartawan salah satu koran local merasakan hal itu. Ketakutan untuk tidak menjadi apa-apa membuatnya menghabiskan malam dengan membakar daun beraroma surga sambil menjelajahi ruang imainasinya dengan tertawa dan cinta.
Sebenarnya hal ini tidak benar-benar dirasakannya. Melainkan oleh seorang sahabatnya. Namun rasa empati membuat dia merasakan apa yang dirasakan oleh orang disampingnya tersebut.
Adalah Ayu Fatma Teresa, wanita dengan postur ideal, berwajah manis dan selalu tersenyum. Dia adalah sahabat baik Zae, tempat dimana utopia yang dia dibangun dalam pikirannya berusaha di manifestasikan. Namun senyumnya sekarang tak terlihat, walaupun tawa dan extravaganja yang sedang ia nikmati mencoba menghibur.
Zae masih ingat ketika malam itu Ayu bercerita tentang apa yang dia rasakan. Sesuatu yang mungkin untuk saatl ini menjadi sesuatu hal bias disebut biasa, tapi tidak untuknya!
Ketika itu Zae sedang menikmati lampu kota yang redup disebuah warung kopi pinggiran kota dan tentunya rokok kretek yang ia hisap.
Seperti biasa , saat itu Ayu datang dengan senyumnya. Namun seperti apa yang pernah dikatakan seseorang “tersenyumlah maka engkau akan menangis”. Persis, senyumnya hilang dan air mata kecewa, kekesalan, penyesalan dan kebingunan mengalir bagai suangai cikapundung yang penuh dengan sampah.
“kayanya aku ngga bisa maafin diri aku”, uJar Ayu dengan suara serak tertahan dan air mata yang tak bisa ditahan.
Zae hanya menatap diam pada matanya yang bercucuran air mata. Menghisap rokok kreteknya dan memperhatikan asapnya menari dalam biasa lampu kota yang redup.
“aku sekarang bukanlah apa-apa dan ngga tau harus berbuat apa”, air mata masih mengalir dari dua bola matanya.
Zae tersenyum, nampaknya dia sudah dapat memberi tanggapan atas pernyataan Ayu, “apakah kau mau untuk mengakhiri hidup ini?”
Ayu tersentak dengan tanggapan berupa pertanyaan yang hanya akan menimbulkan pertanyaan baru dari dirinya, “kenapa kau menanyakan hal itu?”
“ya, tentu, berarti kau masih berkesempatan untuk menjadi sesuatu yang bukan sesuatu”, lanut Zae.
Ayu hanya terdiam, tak mengerti apa yang dikatakan Zae. Otak Zae memang terlalu penuh oleh pemikiran konyol dan tak jelas.
“Baiklah, aku sederhanakan apa yang ku katakana tadi”
Ayu masih terdiam.
“Artinya kau masih memiliki orang-orang disebelah kamu yang menunggu senyum kembali , disamping kanan-kiri, orang tua, sahabat, dan/atau siapapun itu”
“tapi aku ngga yakin kalau aku masih bisa diterima oleh mereka”
“ini bukan permasalahan diterima atau tidak Ay, tapi ini tentang perubahan, jika kamu mau berubah dan meninggalkan kehidupan lama yang telah kamu tempuh pasti semua akan beralan seperti apa yang diharapkan”
“tapi itu bukanlah hal yang mudah!”
“memang, tapi jika kau melakukan hal itu, maka utopia yang kau harapkan itu pasti ada didepan mu” Zae menghisap rokok kreteknya,”Cintailah nasib, tapi jangan menyerah pada nasib”.
Kata pamungkas itu menutup pembicaraan. Malam yang dingin dan semakin dingin membuat mereka memesan bandrek dan menikmati kue balok.
***
Maria Magdalena tersenyum dalam ruang imainasinya, kisahnya memang mirip dengan kisah yang Ayu rasakan. Namun tuuh setan dalam cerita Magdalena menjelma menadi satu pria dalam cerita Ayu. Memang, rayuan penggiat nafsu dapat menghancurkan makna dari kasih-sayang dan cinta sebenarnya.
Zae terus meneleahi ruang imajinasinnya tanpa sadar ia terbawa melayang bersama utopia yang dia bangun di alam bawah sadarnya, dan harapannya sekarang adalah menemukan ladang ganja dan tertawa bersama.()

Bandung, 16 Desember 2010