matamerahcomix

googlecac909b97c1ae097.html

ZAHLEN

Monday, January 25, 2010

Without you, I'm nothing......

Sudah berapa peradaban kita lalui, dan setiap peradaban itu pasti kita jalani dengan cara yang berbeda. Dari peradaban itu kita mengenal apa yang disebut hidup. Hidup sendiri adalah sebuah proses yang akan diakhiri dengan kematian, dan ada sebagian orang yang mempercayai bahwa kehidupan akan berlanjut kembali setelah mati. Itu kekal adanya.

Sudah sekian lama kita hidup, tapi kita rasanya tak menikmati hidup itu sebenarnya. Matahari yang menyinari kita semakin hari semakin panas. Binatang yang seharusnya kita jaga semakin berkurang karena tempat dimana mereka bernaung dan mencari kehidupan itu semakin langka.

Sekarang kita hidup di zaman dimana kita harus memiliki sesuatu untuk menjadi sesuatu. Dalam artian kita memerlukan benda atau apapun itu untuk hidup. Memang benar, kita tak bisa memungkiri itu.

Seseorang dengan sorban akan kita kenal dengan ustad atau kyai. Seseorang dengan buku akan kita kenal sebagai kutu buku. Seseorang dengan gitar akan kita kenal sebagai musisi. Seseorang dengan gaya rambut mowhawk akan kita kenal sebagai punk. Seseorang dengan Dokter Martin dan berkepala botak akan kita kenal sebagai skinhead. Dan kita sembah semua itu.

Keberadaan Tuhan dan nabi pembawa wahyu hari ini hanya sebagai penghias kitab suci saja. berarti memang benar apa yang dikatakan Nietzhe bahwa tuhan telang mati. rumah ibadah tak lagi kita jumpai sebagai pusat kegiatan. Karena agama hanya tameng bagi serigala yang tak hanya memakan bangkai saja, bahkan yang masih hidup pun harus habis dilahapnya.

Hidup menggantung dalam ketergantungan menjadi hal utama di era ini. Hari ini orang tidak akan mengenal kita dengan apa yang kita lakukan. Tapi orang akan mengenal kita dengan apa yang kita punya dan pamerkan.

Seseorang tak akan disebut ustad jika dia tak memamerkan sorbannya. Seseorang tak akan disebut rockstar jika dia tak memakai celana jeans sobeknya. Seseorang pengusaha jika dia tak memamerkan mobil yang berderet diparkiran. Dan kita selalu kagum akan hal itu.

Coba kalian ingat kembali bagaimana dan dari apa kita berasal. Kita berasa dari setetes mani yang menjijikan yang keluar dari penis dan kemudian masuk kedalam vagina untuk selanjutnya menuju rahim dan dikurung semblian bulan agar bisa menjadi seorang bayi yang harus keluar dari vagina ibu yang bertarung hidup dan mati.

Namun setelah itu itu kita harus menodai diri kita dengan perbuatan kita. Kita selalu bangga dengan apa yang kita punya. Kita bekerja keras untuk memenuhi kinginan kita, bukan kebutuhan. Coba kalian pikir. Anjing! Dengan tiga handphone blackberry keluaran baru yang baru dibeli sedangakan kawan kalian sendiri harus tersugkur dikasur butut untuk tidak menikmati penyakitnya.

Apa yang kalian pikir dengan memiliki sepeda motor dan mobil yang berderet dipakiran rumah kalian. Sedangkan orang lain harus berdesakan bahkan tidur selonjoran dijalanan, di kereta api kelas ekonomi. Apa yang kalian pikir dengan hidup di apartement mewah dengan fasilitas spa, kolam renag, pemandian air hangat dan dikelilingi pelacur. Sedangkan saudara kalian harus berperang dengan aparat semacam pamong praja atau brimob dengan persenjataan lengkap.

Ah, sudahlah. Memang mungkin kehidupan sekarang harus seperti ini. Jadi mungkin memang tak ada masalah dengan apa yang telah disebut tadi.

29 Desember 2009