matamerahcomix

googlecac909b97c1ae097.html

ZAHLEN

Saturday, January 30, 2010

Nekropolis

Mungkin ini adalah cuaca terburuk yang pernah terjadi. Udara yang sangat dingin. Tercium amis darah bercampur wang parfum menusuk hidung dan saluran pernapasan. Sampah-sampah berserakan dijalanan. Bangkai-bangkai manusia juga bergeletakan dimana-mana. Serigala dan anjing jalanan keluar dari gorong-gorong dan mulai melolong.
Ribuan koloni gagak menari dan bernyanyi di atas awan yang sepekat jelaga. Mereka membentuk barisan dan lantas bersorak. Perpaduan antara lolongan serigala dan berisiknya koloni gagak yang merdu. Sebuah konsona yang bukan konsonan. Orkestra alam yang harmoni, yang dapat memecahkan dan menghangatkan hari ini.
Aku duduk di bawah pohon yang sudah kering dan lapuk. Nampaknya pohon ini sudah mati. Tepat di depan ku terlihat seorang bayi merangkak menuju bangkai seorang wanita tanpa busana. Sepertinya dia lapar. Dia langsung meremas-remas payudara dan mengulum putingnya.
Seperti yang sudah ku duga. Bayi itu tak akan mendapatkan susu dari bangkai yang sudah kakua dan bau busuk itu. Tapi, setidaknya dia telah mencoba apa yang seharusnya dia konsumsi. Walau pada akhirnya karena terlampau lapar, dia menjilati darah dan nanah yang berkubang di trotoar jalan. Sebelum akhirnya harus menjadi marus.Bagi seorang bayi yang dalam keadaan lapar, konsdisi seperti ini lebih baik daripada harus memakan marus yang sult dicerna.
Aku matikan mp3 playerku yang meutar lagu Wali yang entah apa judulnya. Kata orang lebih asik mendengarkan lagu tersebut sambil mengunyah keripik kentang. Tapi aku tak peduli, karena sekarang aku akan menikmati sebuah mega orkestrayang terdiri dari lolongan anjing jalanan, serigala liar, dan berisiknya koloni gagak yang bernyanyi sambil menari. Perpaduan yang sempurna.

"Aku sudah menduganya jauh-jauh hari" Seorang kakek datang secara tiba-tiba. Dia mengenakan baju silat dan ikat kepala. terlihat cahaya merah menyala dari matanya. Walau sedikit kaget aku tak pedulidengan apa yang dia katakan. Karena kebanyakan dari orang tua pasti seperti itu. Jadi aku terus berkonsentrasi pada cireng isi yang sedang ku makan.
"Jauh sebelum ini aku sudah mendapatkan pirasat. Burung beo dan anjing cau-cau kudirumahku yang biasanya berantem, berkolaborasi membentuk sebuah nada yang indah. Namun sehari setelah itu kedua hewan kesayanganku itu mati tanpa sebab" lanjut si kakek sambil terus memandang ke atas.
"Hah?! Siapa engakau? aku tak mengetahui dan mengenal dirimu sebelumnya!" Aku mulaitertarik dengan apa yang dia katakan.
"Oh, ada yang mendengarkan ku ternyata" kakek itu memandangku wajahnya terlihat angkuh.
"Ya, tentu saja. Aku masih muda dan ngga budek!" ujarku kesal.
"Oya, perkenalkan! namaku George Smith Waltern Kurniawan Kusumo!" ujarnya lantang dan tegas.
"Panjang banget?!"
"Tapi panggil saja aku Hans!" menyodorkan tangannya "Siapa namamu anak muda?"
"Namaku Herbert Spencer, panggil saja aku Allan" Aku mebalas sodoran tagannya.
"Waw! nama mu bagus , Jack warner. Senang berkenalan dengan dirimu Max"

Ah, dasar kakek tua payah. Aku suda menduga bahwa kakek ini budek. Walau matanya bersinar tapi tetap saja pendengarannya terganggu. Mungkin ini faktor usia.

"Hans, engkau sudah tua. Engka pasti lebih banyak pengalaman. Bolehkan aku bertannya sesuatu?"
"Tentu saja, memangnya apa yang sebenarnya ingin engkau tanyaka?"
"Apakah semua ini pernah terjadi sebelumnya? dan apa yang menjadi penyebabnya?"
"Oah, ini rupanya. Sampai detik ini aku tidak pernah mengetahui apakah ini pernah terjadi atau belum, yang jelas sebelum peristiwa ini aku mendapatkan pirasat.."
"Ah, sudahlah Hans. Jangan kau ulang firasatmu itu" Aku langsung ,e,otong pembicaraan Hans, tidak sopan memang. Tapi itulah yang harus kulakukan, Sebelum dia menyatakan kembali firasatnya itu.
"Kau adlah pemuda yang berani...Berani memotong pembicaraanorang tua" ujarnya tersinggung.
"Ya, memang aku tak memiliki sopan santun, tapi itu lebih baik daripada aku harus mendengarkan kembali cerita tentang firasatmu itu!"
"Bukankah engkau ingin mengetahui apa yang terjadi?"
"Aku memang ingin mengetahui apa yang terjadi, tapi bukan untuk mendengarkan cerita tentang firasatmu itu. Aku hanya ingin mengetahui penyebab dari semua ini!"
"Jadi itu yang kau mau? seperti yang sudah ku katakan, aku tak mengetahui pasti penyebab terjadinya hal in Tapi sepanjang perjalanan aku menemukan ini!" membuka ranselnya dan mengeluarkan barang. Diantaranya beberapa potong celana Levi's, Handphone Blackberry dengan warna-warna yang kontras, beberapa pasang sepatu Nike, Vans, Adidas dan dia juga menyodorkan mekanan sampah penuh belatung dengan krispy yang berlabelkan McD.
Kata Hans dia memunguti semjua itu saat dia berjalan kemari. Dia memeunguti barang-barangtersebut diantaran bongkahan mal-mal yang berdiri angkuh, diantara tumpukan bangkai-bangkaimanusia, robot-robot yang terlihat takut ketika tak bisa hidup jika mereka tak mendapatkan konsumen.
Lalu aku berbincang dengan Hans panjang lebar. ternyata Hans bukanlah orang biasa. Umurnya sekarang hampir mencapai dua abad. Katanya dia berumur sekitar 193 tahun. Tujuh tahun lebih muda dari kota ini.
Hans bertutur bahwa kota ini dulu sebuah kota yang sejuk danindah. Layak firdaus yang konon berada dilangit ke tujuh. Aku sangat terkesan dengan apa yang diceritakan Hans. Ingin sekali aku berbincang lebih lama lagi dengannya. Namun apa daya, umurnya yang sudah tua membuat perbincangan ini harus diakhiri. Hans meregang nyawa didepanku. Matanya yang bersinar kini sudah tertutup.
Tapi sebelum dia menjadi bangkai dia sempat meberiku pesan bahwa mencintai dan mendiami bumi itu sudah cukup, tanpa harus menguasainya. Lalu aku membiarkannya tergeletak didepanku.
Aku kembali duduk di bawah phon kering itu. Menatap ke langityang sepekat jelaga. menikmati mega orkestra yang masih berlangsung, dan menghabiskan cireng isiku yang masih tersisa.

Januari 2010