matamerahcomix

googlecac909b97c1ae097.html

ZAHLEN

Saturday, February 6, 2010

A GOOD FRIENDS WILL GIVE A GOOD WAY

Irama suling sunda menyambut saya diperempatan pajajaran, cukup menghibur saya ketika menunggu lampu merah di antara gedung-gedung megah kapitalisme, KFC dan McD. Hari ini memang sudah gelap menuju tengah malam. Silaunya lampu-lampu kota dan baliho-baliho menghilangkan makna dari keindahan rasi bintang. Singkatnya Polusi cahaya.
Malam itu saya menuju rumah, setelah sebelumnya saya mengantarkan kawan saya ke sukajadi. Kami telah berbagi makna di Tamansari. Itu pun merupakan pelunasan atas apa yang saya janjikan untuk mengkonsumsi bakai tenggiri beberapa waktu lalu. Untungnya saya lagi punya uang, karena kemarin saya mendapat upah dari pembuatan artwork. Dan saya mulai mengetahui bagaimana cara menghabiskan uang tersebut, dengan berbagi dua botol bir dan rokok yang kami membelinya secara kolektif.
Seperti kebiasaan disana yang telanjur biasa kami lakukan, saya dan kawan-kawan berbagi beberapa cerita. Menertawakan apa yang saya perbuat, menertawkan tingkah laku Ape dan Goder yang memang secara tidak langsung mereka pelawak juga.
Satu botol bir yang dibeli sore hari kami habiskan, karena kurang puas kami membeli kembali botol kedua. Saya suruh Ape untuk membeli bangke tenggiri yang ada di belakang Monumen. Dia berangkat bersama Goder, saya salut sama Ape karena dia sudah berani membawa motor.Haha..
Ketika kami sedang asik menikmati romantisme. Datang seseorang yang tidak diharapkan untuk datang. Tentunya saya sembunyikan bir dingin segar itu. Saya ngga mau berbagi bersamanya, untuk beberapa alasan yang tak bisa saya jelaskan. Entah kenapa? rasanya persahabatan yang kami rangkai sebagaimana kita merangkai pelangi kala hujan reda itu membias begitu saja.
Untung Bagong memberi penenangan bagi saya agar saya menahan emosi yang ada diujung kepalan. Sudah lama sebenarnya saya ingin menghajarnya, namun begitulah. Dia merupakan bagian dari senja saya yang indah. Saya tak memungkiri itu, walaupun rasanya saya ingin membakar selebaran yang saya buat ketika Goder mengingatkan saya. Terlanjur emosi dan naik pitam.
Saya memang bukanlah superhero yang selalu menang saat berkurusetra. Apa yang pernah saya dengar dulu, hari ini sangat terasa. Bahwa musuh kita sebenarnya adalah diri kita sendiri. Itulah yang saya rasakan hari ini. Matahari dan rembulan yang saya genggam hari ini tak lebih dari sekedar sisa-sisa kehancuran Soddom dan Gomorah.
Dilema yang saya rasakan sangat membuat saya tak bisa mengendalikan emosi saya, jika tak ada kawan yang bersedia mengingatkan saya untuk bersikap biasa dan tetap tenang, sebagaimana saya selalu menyuruh begitu pada kawan saya itu memang berat. Saya tidak ingin membiaskan pelangi yang kami rangkai sekian lama hanya hal yang sepele.
Untuk itu saya tidak ingin menghantamkan kepalan pada diri saya sendiri, walau sebenarnya kalau saya hantam saya yakin ada dipihak yang benar. tapi saya masih teringat akan warna-warni pelangi yang kami lukiskan dalam hati dengan kepercayaan, kasih sayang, cinta, dan persaudaraan. Saya lebih memilih menuliskan ini semua, karena saya meyakini bahwa kata adalah senjata yang paling ampuh.
Seorang sahabat yang baik tak mungkin memberikan kekecewaan terhadap sahabatnya, walaupun saya masih jauh untuk menerima hal itu. Saya masih banyak melakukan hal-hal yang tidak seharusnya saya lakukan. Demi surga dan neraka dan sebotol bir yang saya teguk, saya tidak bisa apa-apa. Karena saya tak memiliki apapun tak juga surga, tak juga neraka.
Kejenuhan, mungkin itu menjadikan alasan. Tapi saya rasa bukanlah itu yang menjadi alasan. Atau mungkin saya memang terlalu goblok untu menafsirkan semua yang ada sehingga semua terasa membosankan, monoton dan menyebalkan.
Saat ia pulang rasa kesal yang saya alami itu mulai reda, kami menghabiskan botol terakhir. Kami hanya ingin berbagi makna, diantara terjalnya bebatuan yang menyambut kami di depan sana. Melihat kembali cahaya rembulan yang menyinari harapan kosong dan ratapan bisu kedua bola mata. Kami hanya ingin saling menjaga satu sama lain, kami hanya ingin untuk tidak saling mengkhianati, kami hanya ingin berbagi kembali senja yang datang saat kereta KRD melaju kencang ke stasiun Bandung. Kami hanya ingin dipertemukan kembali di Firdaus untuk menikmati sungai madu disana. Amin.

Bandung, 09 November 2009