matamerahcomix

googlecac909b97c1ae097.html

ZAHLEN

Wednesday, March 31, 2010

2000 yang di bubarkan!

Sekitar tiga orang aparat masuk ke ruang management Inka Christy, seorang diantaranya memakai kalung laras panajang senapan. Saya, Ega, Boby, Om Dzul, dan pihak dari studio juga ikut masuk. Padahal acara ketika itu sedang asik-asiknya.
Mata saya sudah belel ( kayak celana jeans yang selalu saya pakai kemana-mana, bahkan sekarang udah sobek. Rock N Roll Abis!!!) karena mungkin cape dan pengaruh destro yang ku telan, dan saya sudah ngga bisa apa-apa lagi, pasrah. Dalam hati sudah saya bayangkan kumuhnya penjara dan apalagi saya masuk penjara bukan karena kriminal. wuih...
Polisi mulai mengintrogasi ( bener teu nulisna?) pokokna mah nanya-nanya weh lah, dan saya jawab dengan jujur karena saya saat itu memang setengah sadar. Untung Boby dan Ega cukup piawai dalam membelok-belokan alur cerita.
Tiba-tiba dari luar pintu ruang management Inka Christy datang sesosok makhluk memakai gamis dan ber-kopiah, dengan penampakan usia paruh baya (geus Kolot). Rasa lega pun datang karena saya pikir itu adalah malaikat yang diturunkan langsung oleh Tuhan ke bumi untuk menolong hamba-hambanya yang sedang kesusahan. Namun, rasa lega itu tak bertahan lama, setelah mengetahui siapa dia sebenarnya, ternyata nyatanya dia adalah setan yang berwujud manusia paruh baya yang mengaku sebagai ketua RW! dan ANJING! kedatangannya membawa malapetaka bagi kami, dia terus menyudutkan kami (panitia), dan pihak dari studio pun tak berkicau. Padahal sudah jelas pada perjanjiannya pun bahwa ijin RT/RW ditanggung oleh pihak studio. Mana buktina? berarti disini ada dua kemungkinan. Pertama, memang pihak studio tak ijin dulu kepada RT/RW, atau kedua si setan berwujud RW tuh ngga dikasih 'pelicin' sehingga dia dengan berani dan berjiwa 'patriotisme' datang dan memaki-maki kami!

Acara yang kami ini adalah sebuah manifestai dari keinginan sekelompok muda progresif? haha... untuk mewadahi kreatifitas khususnya di bidang seni musik. Pasca terjadinya tragedi AACC acara-acara seperti gigs rasanya berubah wujud menjadi sesuatau yang disebut kriminal. Masa orang berkreasi di sebut penjahat?
Acara ini bernama Young Blood , yang berarti darah muda. Itu terinpirasi dari lagu si Raja Dangdut. Acara ini juga sudah di konsep beberapa bulan sebelumnya tepatnya bulan puasa 2008. Namun pada bulan puasa ngga langsung mateng, kami masih terus mencari-cari info tentang semuanya. Tapi akmi sudah mendapatkan susunan panitianya, diantaranya Boby (Bung Mad) sebagai ketua, Isal (Bung Man) sebagai wakil ketua, saya dan juga Ega (Bung Mid) ada di bagian humas, dan tentu masih banyak lagi beberapa pihak yang sangat membantu tetapi saya tak bisa menuliskannya oleh karena beberapa sebab yang saya tidak tau apa penyebabnya.
Sungguh acara ini tak dimodali oleh pihak/korporasi manapun. Asli hasil kerja kolektif dan swadaya anak-anak yang ridha dan ikhlas mendukunng adanya acara ini. Dari mulai cari studio, cari band, nentuin nama acara, nama komunitas, bikin pamflet, bikin logo, bikin id card, dan macem-macemnya kami kerajakan sendiri.
Sepulang sekolah mulai kami berkumpul di kantin 16 untuk mengkonsep acara agar semakin matang, itu berlangsung hampir setiap hari. Begitu juga ketika kami menghabiskan week end kami atau hang out di Surabi Arab. Kami terus berdebat, berkompromi untuk bagaimana agar acara ini bisa berjalan lancar, selamat sampai tujuan, dan belok kiri jalan terus. Dan dalam diskusi ada saja orang yang selalu mementingkan egonya sendiri, dan itu adalah hal yang bisa dianggap, wajar? di sebuah perkumpulan atau habitat, karena semua berasal dari backround yang berbeda-beda, sehingga mau ngga mau harus siap menerima perbedaan, tapi gimana kalu sudah jadi super-ego? talapung weh Anjing!!
Pulang lewat magrib bahkan larut menjadi hal biasa sebelum hajat di mulai, banyak sekali yang kami kesulitan yang kami hadapi, namun kami hadapi dengan semangat akan membangun sebuah singgasana surga di atas sisa-sisa reruntuhan neraka dunia hingga kita bisa kembali berbagi merahnya senja, berbagi keceriaan purnama pada malam yang gelap dan dingin seperti es balok.
Acara yang dimulai jam 4 sore itu ngaret sampai berapa jam selanjutnya, ditambah juga band-band yang orongoh dan ogo, pembaptisan keringat setiap personel dan penonton, dan semua orang disana tak dapat lagi dihindarkan. Namun, sial sekitar jam delapan polisi yang berpakaian preman datang dan membubarkan acara. Tentu itu membuat kami juga band-band yang belum main serasa disodomi ku gagang sikat.
Ya, memang kami akui salah, membuat sebuah hajatan tanpa ijin, kami membuat kemacetan di sekitar sana, tapi ini adalah bagian dari ekspresi kami, ekspresi yang terpendam dalam jiwa-jiwa kami. Andai saja mereka tahu perjuangan dan tujuan kami, mungkin mereka tak kuasa untuk membubarkan atau tetap saja! karena beberapa hal.
Tujuan kami membuat acara seperti itu adalah murni sebagai wadah bagi mereka yang ingin bebas meneriakan aspirasinya. Tanpa ada tujuan untuk mendapatkan keuntungan secara materi, kami hanya ingin membangun area mosh pit dan melarutkan diri dalam orgasmenya pogo dance.
Dan keesokan harinya ada sebuah acara musik yang diadakan oleh sebuah korporasi rokok raksasa yakni Djarum berjalan dengan sukses, tentu saja itu tujuannya adalah promosi produk mereka. Bukan untuk mewadahi kreatifitas dan ekspresi, dan itulah yang berbahaya. Bukan kami!